PERNAFASAN DUDUK DAN MANFAATNYA
PERNAFASAN DUDUK DAN MANFAATNYA
Pernafasan duduk awal dilakukan sebagai pemanasan (warming-up) bagian
dalam tubuh sebelum melakukan pernafasan bergerak. Pernafasan duduk
akhir dilakukan untuk pendinginan (cooling down) dan pengendapan tenaga
hasil latihan. Pernafasan duduk juga dikerjakan diluar latihan bersamaan
dengan nafas gerak.
Cara Latihan Pernafasan Duduk
Cara latihan pernafasan duduk adalah sebagai berikut:
• Duduk dengan kaki melipat ke belakang, telapak kaki dengan ujung jari
kaki melingkar ke arah pantat. Tulang ekor menyentuh lantai dan punggung
diluruskan. Tangan dengan jempol digenggam diletakkan pada lutut,
pandangan lurus ke depan ke satu titik.
• Bila peserta lebih dari satu orang dan sejenis, maka peserta duduk merapat kiri kanan sehingga lutut saling bersentuhan.
• Bernafas teratur sambil berkonsentrasi dzikir Laa ilaha illallah bagi
muslirn. Keluar masuk nafas melalui bidung, dengan diantaranya menekan
nafas dibawah perut (abdominal pressing). Selang waktu tarik,
tekan/tahan dan keluar nafas adalah sama yakni 10-30 detik. Pernafasan
duduk dilakukan selama 10 menit.
Manfaat Latihan Pernafasan Duduk
Manfaat latihan pernafasan duduk sebagai berikut:
• Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan sistem pernafasan yaitu
dengan meningkatnya kapasitas vital paru-paru. Kapasitas vital merupakan
salah satu tolok ukur bagi kemampuan fungsional sistem pernafasan.
Latihan pernafasan duduk akan menyebabkan seluruh gelembung paru
(alveoli) mengembang dan menjadi aktif dalam proses pernafasan, suatu
cara pelatihan yang baik untuk kesehatan pernafasan. Pada olah raga
biasa, pernafasan memang juga menjadi lebih dalam dan cepat, tetapi
bertambah dalamnya pernafasan tidak pemah mencapai maksimal seperti
halnya pada latihan pernafasan duduk ini.
• Dengan pola pernafasan duduk yang melakukan ekspirasi maksimal,
inspirasi maksimal dan abdominal pressing, maka tidak hanya otot-otot
pernafasan biasa yang dilatih, tetapi juga otot-otot pernafasan pembantu
dan bahkan juga otot-otot dinding perut dan dasar panggul, khususnya
pada saat abdominal pressing. Otot-otot pernafasan pembantu ialah
otot-otot tubuh (togok) yang akan menjadi aktif membantu pernafasan bila
terjadi kesulitan bernafas seperti misalnya pada penderita Asma
Bronkial yang sedang mendapat serangan. Dengan latihan pernafasan
demikian maka cukup banyak otot-otot tubuh (togok) ikut dalam latihan
ini, sehingga wajar bila latihan pernafasan duduk saja sudah menyebabkan
tubuh menjadi hangat dan bahkan berkeringat.
• Mekanisme pernafasan, khususnya pernafasan perut memperlancar aliran
darah balik dari vena-vena di daerah perut menuju ke jantung. Hal ini
disebabkan karena pada waktu inspirasi (tarik nafas) tekanan di rongga
perut meningkat sedangkan tekanan di rongga dada menurun, sehingga darah
dari arah perut ditekan, sedangkan dari arah dada dihisap. Dengan
semakin tingginya tekanan di dalam perut dengan abdominal pressing maka
terjadi semacam massage/pijatan terhadap alat-alat disekitar perut,
sehingga aliran darah dalam alat-alat tubuh di rongga perut dan juga
aliran darah balik ke jantung akan semakin lancar, yang akan lebih
menjamin pemeliharaan kesehatan alat-alat dalam perut tersebut, serta
juga meningkatkan kelancaran peredaran darah sistemik pada umumnya.
Tekanan-tekanan yang terjadi pada alat-alat dalam perut itu, khususnya
terhadap pencemaan makanan, akan merupakan rangsangan mekanik yang akan
memperbaiki gerakan peristaltik saluran pencemaan makanan, sehingga
dapat menyembuhkan penyakit-penyakit gangguan motilitas misalnya
meteorismus (perut kembung) dan obstipasi (sembelit, susah buang air
besar),
• Meningkatkan derajat kesehatan fisik dan mental sekaligus. Bila kita
perhatikan diri kita atau orang lain di sekeliling kita, ada satu
fenomena menarik yang berhubungan dengan ritrne pernafasan. Orang dalam
keadaan marah, mengamuk, stress, ketakutan, sikap tak sabaran dan sikap
mental negatif lainnya, ternyata menunjukkan ritme pernafasan yang tidak
teratur, kacau-balau, tersengal-sengal. Bila dalam keadaan ini
gelombang otaknya direkam dengan alat EEG, hasilnya adalah gelombang
otak yang tidak normal, kacau tidak teratur. Jadi sebenamya ada korelasi
antara mental, ritme pernafasan dan gelombang otak.
Sejumlah penelitian tentang Meditation dan EEG telah dilakukan, dilihat
korelasi antara ritme pernafasan dan hasil rekaman listrik otak serta
hubungannya dengan kesehatan fisik dan mental seseorang. Dari hasil
penelitian itu dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut:
Manusia biasa bemafas sekitar 16-20 kali per menit. Hasil rekaman EEG
menampilkan pola gelombang otak orang yang mudah terserang stress,
gampang tersinggung, suka marah dan sikap mental negatif lainnya. Secara
fisik, orang demikian mudah terserang penyakit disfungsional organ
tubuh seperti tekanan darah tidak normal, kolesterol tingggi, Hb darah
rendah, gangguan maag, ganggguan fungsi jantung, diabetes mellitus,
sesak nafas, alergi dan sebagainya. Dengan pusat kontrol yang kacau dan
tidak bekerja baik, otomatis fungsi kontrol terganggu sehingga organ dan
bagian tubuh menjadi disfungsional, tidak menjalankan fungsi
sebagaimana mestinya. Pada kelompok manusia yang dapat bemafas hanya 4
kali per menit, hasil rekaman gelombang otak adalah sangat teratur, yang
disebut sebagai gelombang alfa. Temyata secara mental orang tersebut
tidak mudah terserang stress, tidak mudah tersinggung, mempunyai rasa
percaya diri yang besar, sabar dan mempunyai sikap positif lainnya.
Secara fisik, tidak dijumpai penyakit disfungsional. Dengan pusat
kontrol yang baik dan teratur, otomatis dapat mengontrol semua organ dan
bagian tubuh bekerja dengan baik pula.
Peserta latihan pernafasan Satria Nusantara dilatih untuk bernafas
dengan ritme yang teratur, pelan dan dalam disertai konsentrasi dzikir.
Siklus waktunya antara 10-30 detik untuk tarik tekan/tahan dan keluar
napas, artinya ritme pernafasan diperlambat dari 2 kali per menit sampai
I kali dalam waktu satu setengah menit. Bila dalam latihan pernafasan
sudah bisa mencapai frekuensi 2 kali per menit, maka akan menghasilkan
refleks pernafasan 4-6 kali per menit. Sedangkan bagi yang sudah mampu
hanya bemafas 1 kali per menit dalam latihan, akan memiliki refleks
pernafasan 3-4 kali per menit. Sama dengan hasil penelitian diatas.
Itulah sasaran latihan pernafasan duduk Satria Nusantara.
Kebiasaan bernafas pelan dan dalam disertai selalu ingat kepada Sang
Pencipta dalam kehidupan sehari-hari akan menghasilkan ketenangan jiwa,
mental yang stabil, sehingga akan memberikan pengaruh terhadap
stabilitas fungsi syaraf otonom dengan semakin meningkatnya fungsi
syaraf parasimpatik. Fungsi syaraf parasimpatik berhubungan erat dengan:
Anabolisme yaitu metabolisme yang bersifat membangun, yang mengarah
kepada perbaikan-perbaikan terhadap kerusakan jaringan dan gangguan
fungsional. Pengahambatan fungsi sistem jantung-pembuluh darah yang
cenderung menyebabkan melambatnya denyut jantung dan melemasnya pembuluh
darah, khususnya arterioale sehingga menyebabkan tekanan darah menurun.
Peningkatan fungsi sistem lambung-usus sehingga akan memperbaiki fungsi
pencernaan dan penyerapan makanan.
• Telapak kaki penuh dengan simpul-simpul saraf selalu siap memancarkan
gelombang elektromegnetik dari tubuh ketika sedang latihan pernafasan.
Dengan kedua ujung kaki berhadapan, diharapkan pemancaran getaran dari
telapak kaki yang satu akan masuk ke telapak kaki lainnya sehingga
membentuk satu siklus peredaran elektromagnetik di dalam tubuh.
• Telapak tangan yang penuh dengan simpul-simpul syaraf dan satu
generator listrik yang terletak diantara ibu jari dan telunjuk, siap
memancarkan getaran dari tubuh ketika sedang latihan pernafasan. Dengan
ibu jari tergenggam, dapat dicegah pemancaran getaran yang sia-sia,
tidak diinginkan.
• Tulang ekor menyentuh lantai akan menghubungkan kumparan syaraf di
dalamnya, yang merupakan salah satu generator listrik, dengan listrik
bumi secara langsung sehingga diharapkan terjadi interaksi Isitrik bumi
terhadap listrik tubuh melalui generator listrik tersebut.
• Punggung diluruskan akan menyebabkan aliran listrik dari syaraf pusat ke selurah organ tubuh berjalan lancar.
• Pandangan mata lurus kedepan ke satu titik akan melatih otot-otot mata
dan agar otot mata keadaannya seirama dengan otot bagian lain dalam
latihan pernafasan ini.
Back to top
Pengaruh Lingkungan terhadap Keadaan Fisiologis Ternak.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada dasarnya factor utama yang mempengaruhi tingkat produktivitas
ternak atau performance adalah lingkungan dan genetic. Sehingga
lingkungan yang berhubungan langsung dengan Performance pada ternak
merupakan faktor terpenting dalam penentuan karakter atau sifat dari
ternak. Pada umumnya lingkungan memiliki persentase yang lebih tinggi
dibanding Genetic, yaitu 70% untuk lingkungan sedang Genetic 30%.
Sehingga mengambil bagian yang sangat penting dalam membentuk karakter
ternak.
Faktor lingkungan yang langsung berpengaruh pada kehidupan ternak adalah
Iklim. Iklim merupakan faktor penentu ciri khas dan pola hidup dari
suatu ternak. Misalnya, ternak pada daerah tropik tidak sama dengan
ternak yang berada di daerah subtropis. Namun, pada saat ini hal
tersebut telah mampu di atasi dengan penyesuaian pengaturan suhu tubuh
secara langsung seperti yang dilakukan oleh peternakan di israel yang
menggunakan Air Condition (AC) untuk beternak. Hal ini ditempuh karena
panasnya iklim di israel yang tidak memungkinkan ternak Subtropis
berproduksi secara normal. Dengan mengambil metode penyesuaian suhu
tersebut maka di dapati bahwa dengan penyesuain suhu lingkungan ternak
dapat dihasilkan hasil yang maksimal bahkan dapat melebihi hasil yang di
dapati pada daerah asal.
Iklim sendiri merupakan bagian terpenting dari penentuan kerja status
faali dari ternak. Pengaruh langsung iklim terhadap ternak adalah pada
produktivitasnya.
Penentuan status faali dari ternak sangat penting untuk diketahui karena
dengan mengetahui status faali pada ternak, para peternak dapat
menentukan dan menemukan pengaruh lingkungan pada ternak. Karena pada
dasarnya dengan mengetahui temperatur lingkungan, kelembaban, temperatur
kulit, suhu tubuh, suhu rektal, respirasi dan denyut jantung, peternak
akan dapat mengetahui cara dan pengaruh buruk faktor-faktor iklim
terhadap ternak serta untuk mengetahui pada temperatur dan kelembaban
berapa ternak memiliki produktivitas yang baik dan efisien, maka oleh
karena itu perlu adanya pengelolaan yang lebih lanjut dan intensif.
Dalam usaha meningkatkan produktivitas ternak maka salah satu upaya lain
selain iklim adalah perbaikan mutu makanan ternak. Karena pakan ternak
merupakan bagian yang sangat penting dari usaha peternakan (Umar, dkk.,
1992).
Ternak merupakan hewan yang selalu berupaya mempertahankan temperatur
tubuhnya pada kisaran yang normal. Mount (1979) menyatakan apabila sapi
diekspose pada temperatur 45°C selama 5 jam sehari dalam 21 hari
terus-menerus maka mulai hari ke 10 sapi tersebut sudah dapat
menyesuaikan diri dengan temperatur panas sehingga temperatur tubuhnya
akan sama seperti sebelum diekspose pada panas. Proses mempertahankan
temperatur tubuh tersebut tidak berjalan secara langsung tetapi melalui
proses yang bertahap.
Kelembaban udara dari suatu lingkungan kehidupan ternak merupakan salah
satu unsur iklim. Dimana kelembaban lingkungan mempengaruhi kesehatan
ternak. Kelembaban yang terlalu tinggi akan mempertinggi kejadian
penyakit saluran pernapasan yang pada gilirannya memakai biaya perawatan
kesehatan yang tinggi pada usaha produksi ternak. Kelembaban udara yang
tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya
frekuensi respirasi.
Di lingkungannya masing-masing jenis mahluk hidup itu tidaklah merupakan
kesatuan yang seragam (contohnya manusia), ada perbedaan ukuran tubuh,
warna kulit, sifatnya. Begitu juga ternak, seperti sifat unggul dari
suatu hewan ternak kita dapat menjumpai sifat ketahanan atau kepekaan
nya dari suatu serangan penyakit. Perbedaan-perbedaan sifat yang
dimiliki oleh ternak dikarenakan oleh faktor bawaan.
Karena faktor lingkungan juga berpengaruh terhadap tingkah laku ternak.
Bila suhu lingkungan berada di atas atau di bawah comfort zone untuk
mempertahankan suhu tubuhnya ternak akan mengurangi atau atau
meningkatkan laju metabolisme. Williamson dan Payne (1968) menjelaskan,
pada sapi tropik yang dipelihara pada suhu lingkungan di atas 27°C
mekanisme pengaturan panas aktif dan laju pernafasan dan penguapan
meningkat.
Dan pada akhirnya dari serangkaian faktor lingkungan yang mempengaruhi
lingkungan ternak maka ternak akan menyesuaikan dirinya. Salah satunya
yaitu toleransi terhadap panas. Namun ternak juga memiliki batas
toleransi terhadap panas tersebut atau dengan kata lain bahwa daya tahan
ternak terhadap panas itu terbatas
Ilmu Lingkungan Ternak
Data yang tersedia memperlihatkan bahwa konsumsi daging per kapita per
tahun pada 1982 baru mencapai 4 kg atau 66,7% dari sasaran. Walaupun
tingkat konsumsi daging tidak hanya ditentukan oleh tingkat produksinya
saja, tetapi jika dikaitkan dengan data pertumbuhan populasi ternak,
diperoleh petunjuk bahwa tingkat produksi daging belum dapat memenuhi
kebutuhan minimal. Dengan demikian, diperlukan usaha – usaha untuk
meningkatkan produktivitas ternak.
Produktivitas ternak dicerminkan oleh penampilannya ( performance ),
sedangkan penampilan ternak merupakan manifestasi pengaruh genetik dan
lingkungan ternak secara bersama. Penampilan ternak dalam setiap waktu
adalah perpaduan dari sifat genetik dan lingkungan yang diterimanya.
Ternak dengan sifat genetik baik tidak akan mengekspresikan potensi
genetiknya tanpa didukung oleh lingkungan yang menunjang. Bahkan telah
diketahui bahwa dalam membentuk penampilan, lingkungan berpengaruh lebih
besar dari pada sifat genetik ternak.
Iklim, yang merupakan salah satu faktor lingkungan, selain berpengaruh
langsung terhadap ternak juga berpengaruh tidak langsung melalui
pengaruhnya terhadap faktor lingkungan yang lain. Selain itu berbeda
dengan faktor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, iklim
tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia.Untuk
memperoleh produktivitas ternak yang efisien, manusia harus
“menyesuaikan“ dengan iklim setempat.
Iklim yang cocok untuk daerah peternakan adalah pada klimat semi-arid.
Daerah dengan klimat ini ditandai dengan kondisi musim yang ekstrim,
dengan curah hujan rendah secara relatif dan musim kering yang panjang.
Fluktuasi temperatur diavual dan musim sangat besar, lengas udara
sepanjang tahun kebanyakan sangat rendah dan terdapat intensitas radiasi
solar yang tinggi karena atmosfir yang kering dan lagit yang cerah.
Meskipun curah hujan keseluruhan berkisar antara 254 sampai 508 mm,
dapat terjadi lebat bila turun hujan tetapi kejadiannya sangat
jarang.(ilmu lingkungan)
Perkandangan, disamping fungsinya yang lain adalah salah satu upaya
manusia untuk melindungi ternaknya dari pengaruh iklim yang negatif
serta menciptakan kondisi iklim mikro yang optimal bagi ternaknya.
Dengan tujuan memperoleh gambaran pengaruh kandang terhadap keadaan
fisiologis ternak yang selanjutnya akan berpengaruh pula pada
produktivitas ternak, dilakukan penelitian dengan menggunakan kambing
peranakan Ettawa sebagai materi penelitian.
Iklim yang ada diberbagai daerah tidaklah sama, melainkan bervariasi
tergantung dari faktor-faktor yang tak dapat dikendalikan (tetap)
seperti altitude (letak daerah dari ekuator, distribusi daratan dan air,
tanah dan tofografinya) dan latitude (ketinggian tempat) dan
faktor-faktor tidak tetap (variabel) seperti aliran air laut, angin,
curah hujan drainase dan vegetasi. (Conrad et al.. 1950 ; Devendra dan
Burns, 1970 ; Williamson dan Payne, 1978 dan Soedomo, 1984).
Temperatur Lingkungan
Setiap hewan mempunyai kisaran temperatur lingkungan yang paling sesuai
yang disebut Comfort Zone (Williamson dan Payne, 1987; Mc Dowell, 1980;
Webster dan Wilson, 1980). Menurut Williamson dan Payne (1987), Mc
Dowell (1980) dan Taffal (1982), temperatur lingkungan yang paling
sesuai bagi kehidupan ternak di daerah tropik adalah 10°C - 27°C (50° F -
80° F). Foley et al. (1972) menyatakan bahwa keadaan lingkungan yang
ideal untuk sapi perah adalah pada temperatur antara 30°F - 60°F dan
dengan kelembaban rendah. Sedangkan menurut Adi Sudono dkk. (1968)
dikutip Kusuma Dewi dkk. (1977), Sapi FH maupun PFH memerlukan
persyaratan iklim dengan ketinggian tempat ± 1000 m dari permukaan laut,
suhu berkisar antara 15° - 21°C dan kelembaban udaranya di atas 55
persen. Kenaikan temperatur udara di atas 60°F relatif mempunyai sedikit
efek terhadap produksi sampai dicapai temperatur kritis dari tiap-tiap
individu sapi (Umar AR., dkk, 1991).
Kelembaban Lingkungan
Iklim di indonesia dalah Super Humid atau panas basah yaitu klimat yang
idtandai dengan panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus
menerus (Umar AR., dkk. 1991). Temperatur udara berkisar antara 21.11°C –
37.77°C dengan kelembaban relatir 55 – 100 persen (Wright, 1964 dikutip
Lubis, 1956., dikutip Umar Ar, dkk 1991). Rata-rata temperatur
sepanjang tahun berkisar antara 2032 – 3048 mm atau 80 – 120 inchi
(Soedomo, 1984). Pengaruh iklim pada ternak di daerah ini sangat
mencolok (Umar Ar., dkk, 1991).
Suhu dan kelembaban udara merupakan faktor-faktor yang penting dari
iklim karena besar pengaruhnya terhadap kondisi ternak (Hafiz, 1968 ; Mc
Dowell, 1970). Suhu dan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan
stress pada ternak sehingga suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung
meningkat, serta konsumsi pakan menurun, akhirnya menyebabkan
produktivitas ternak rendah. Selain itu berbeda dengan factor lingkungan
yang lain seperti pakan dan kesehatan, maka iklim tidak dapat diatur
atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia (Djoko Sarwono, 1985).
2.4. Daya Tahan Panas
Penerapan ternak di daerah yang iklimnya sesuai akan menunjang
dihasilkannya produksi secara optimal. Salah satu unsur penentu iklim
adalah suhu lingkungan. Bagi sapi potong yang mempunyai suhu tubuh
optimum 38.33°C, suhu lingkungan 25°C dapat menyebabkan peningkatana
rata pernafasan, suhu rektal dan pengeluaran keringat, yang semuanya
merupakan manifestasi tubuh untuk mempertahankan diri dari cekaman panas
(Widoretno. 1983).
Daya tahan panas seekor ternak dapat diketahui melalui penggunaan rumus
Benezra (1952), berdasarkan hasil pengukuran suhu rektal dan rata-rata
pernafasan pada pagi dan siang hari (Widoretno. 1983)
Makin tinggi nilai “Benezra Coefficient”, daya tahan panas hewan makin
rendah. Dilain pihak Guyton (1976) mengemukakan, bahwa makin banyak
jumlah keringat yang dikeluarkan, hewan makin tidak tahan terhadap
cekaman panas. Dengan demikian makin tinggi nilai “Benezra Coefficient”,
jumlah ekskreasi keringat makin banyak (Widoretno. 1983).
Sampai saat ini belum ada penelitian mengenai banyaknya ekskresi
keringat yang dihubungkan dengan daya tahan panas sapi potong, yang
menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan relative murah
harganya.
2.5. Menghitung RH-Tbk-Tbb
Kelembaban udara ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di dalam
udara. Total massa uap air per satuan volume udara disebut sebagai
kelembaban absolut (absolute humidity, umumnya dinyatakan dalam satuan
kg/m3). Perbandingan antara massa uap air dengan massa udara lembab
dalam satuan volume udara tertentu disebut sebagai kelembaban spesifik
(spesifik humidity, umumnya dinyatakan dalam satuan g/kg). Massa udara
lembab adalah tital massa dari seluruh gas-gas atmosfer yang terkandung,
termasuk uap air; jika massa uap air tidak diikutkan, maka disebut
sebagai massa udara kering (dry air).
Data klimatologi untuk kelembaban udara yang umum dilaporkan adalah
kelembaban relatif (relative humidity, disingkat RH). Kelembaban relatif
adalah perbandingan antara tekanan uap air aktual (yang terukur) dengan
tekanan uap air pada kondisi jenuh. Umumnya dinyatakan dalam persen.
RH = [PA/Pg] x 100%
Di mana: PA = tekanan uap air aktual
Pg = tekanan uap air pada kondisi jenuh
2.6. Suhu Tubuh
Suhu tubuh hewan homeotermi merupakan hasil keseimbangan dari panas yang
diterima dan dikeluarkan oleh tubuh. Dalam keadaan normal suhu tubuh
ternak sejenis dapat bervariasi karena adanya perbedaan umur, jenis
kelamin, iklim, panjang hari, suhu lingkungan, aktivitas, pakan,
aktivitas pencernaan dan jumlah air yang diminum (Anderson, 1970).
Bartholomew (1977) menyatakan bahwa suhu normal adalah panas tubuh dalam
zone thermoneutral pada aktivitas tubuh terendah. Selanjutnya oleh
parker (1980) ditambahkan, variasi normal suhu tubuh akan berkurang bila
mekanisme thermoregulasi telah bekerja sempurna dan hewan telah dewasa.
Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa variasi suhu tubuh 0,6 - 1,2
oC adalah normal.
Webster dan Wilson (1980) mengatakan bahwa suhu tubuh (true body
temperature) adalah suhu daerah yang meninggalkan jantung dan suhu
rectal umumnya 0.1 – 0.3 oC lebih rendah dari suhu tubuh. Walaupun
demikian, menurut Anderson (1970), salah satu cara untuk memperoleh
gambaran suhu tubuh adalah dengan melihat suhu rectal dengan
pertimbangan bahwa rectal merupakan tempat pengukuran terbaik dan dapat
mewakili suhu tubuh secara keseluruhan sehingga dapat disebut sebagai
suhu tubuh